Latest News

Featured
Featured

Gallery

Technology

Video

Games

Recent Posts

Minggu, 15 Januari 2017

Bikin Kursus Online, Pendapatan Guru Bahasa Inggris Ini Capai Miliaran !!!


Dunia Online - Bahasa Inggris memang sejak lama menjadi bahasa internasional yang digunakan sebagai alat komunikasi lintas negara. Tak ayal jika keberadaannya sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan, mulai dari persyaratan studi sampai penunjang karier.

Peluang inilah yang tampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh seorang guru muda asal China, Zhu Wei. Pada tahun 2015 lalu, ia meluncurkan sebuah perusahaan kursus online belajar Bahasa Inggris.

Dilansir Shanghaiist, Senin (16/1), awalnya, Zhu membuka 9 kursus live streaming selama dua jam dengan biaya 799 yuan (Rp 1,5 juta) per siswa. Tanpa diduga, peminat kursusnya mencapai 2.330 peserta. Jika ditotal, Zhu mendapatkan penghasilan USD 270 ribu atau sekitar Rp 3,6 miliar.

Sukses dengan program kursus tersebut, Zhu bersama timnya kemudian mengembangkan lima paket kursus lagi, dua diantaranya bahasa Korea dan Jepang. Dari paket tersebut, pendapatan Zhu melonjak menjadi Rp 21 miliar.

Angka penghasilan tersebut terbilang sangat fantastis jika dibandingkan pendapatan guru di sekolah umum. Sebagai perbandingan, guru di sekolah elit di Shanghai hanya berpenghasilan USD 17 ribu (Rp 226 juta) per tahun. Sedangkan gaji guru di AS mencapai USD 57 ribu (Rp 759 juta) per tahun.

Bahkan menurut Huffingtonpost, gaji guru tertinggi di dunia ada di Luxemburg dengan angka USD 79 ribu atau setara Rp 1 miliar per tahun. Angka tersebut tentu masih kalah jauh dengan pendapatan Zhu dari kursus online miliknya.

Nah, setelah melihat penghasilan menggiurkan dari kursus online tersebut, kamu tertarik mengikuti jejak kesuksesan Zhu?

Minggu, 25 Desember 2016

Siapa Sebenarnya Sinterklas dan Bagaimana Sejarahnya?


Dunia Online - Sinterklas, disebut juga Santa Clause, pamornya cukup mendunia di seluruh penjuru negeri. Kakek-kakek tua yang dicitrakan berjanggut putih lebat, berdahi lebar, serta berperut buncit tersebut dikenal gemar memberi hadiah kepada anak-anak.

Konon katanya, ia muncul tiap Natal dan selalu meletakkan hadiah untuk umat-umat di dunia di dalam kaus kaki yang telah disediakan pemilik rumah di dekat cerobong asap.


Lalu, Sinterklas akan meluncurkan kadonya lewat cerobong asap tersebut. Dari rumah ke rumah, ia keliling menggunakan kereta rusa. Sambil tertawa ho-ho-ho, dia menyambangi tiap-tiap cerobong asap di musim yang dingin.

Bila ditelaah lebih jauh, sebenarnya dari mana asalnya Sinterklas? Apakah ia benar ada? Atau hanya cerita rekaan yang dibuat oleh orang-orang zaman dulu?


Menurut berbagai sumber, Sinterklas bernama asli Nikolas. Ia adalah seorang uskup dari Myra.

Nikolas lahir di Kota Patara, dekat Laut Mediterania, pada abad ketiga. Konon kabarnya, ia tak punya kakak, juga tak punya adik. Ya, dialah penerus tunggal keluarganya. Dulu, menurut kabar burung, orang tua Nikolas sudah lama menanti kehamilan. Namun tak juga diberi. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya dikandunglah bayi Nikolas.

Kehadiran Nikolas dianggap sebagai anugerah bagi keluarganya.


Entah kebetulan atau tidak, pria yang tumbuh dewasa itu kian jadi manusia yang religius dan memiliki jiwa sosial tinggi. Karena itu, belum genap menginjak usia kepala dua, Nikolas sudah dinobatkan menjadi pastor.

Setelah beranjak dewasa, Nikolas lantas tinggal dan besar hingga menjadi uskup di Myra, yang kini menjadi bagian dari Demre, Turki. Semasa menjadi uskup dulu, Nikolas dikenal sebagai sosok yang sering sekali memberikan kado hadiah, baik kepada orang miskin maupun kepada anak-anak.

Untuk mengenang jasanya membagikan berkat bagi sesama, banyak orang mengingat hari lahir Nikolas.


Kebetulan, kelahirannya berdekatan dengan masa Natal, yakni pada 6 Desember. Sosok ini lantas dihubungkan dengan Natal. Jadi, sebelum Natal, Nikolas terkenal suka memberikan kado kepada sesamanya.

Sedangkan pakaian yang dikenakannya itu identik dengan jubah yang dipakai seorang imam. Tongkat gembala juga dicitrakan selalu dibawa. Secara fisik, Nikolas digambarkan memiliki rambut sedikit gondrong dengan warna cukup pirang.


Setelah wafat, orang-orang menganggapnya sebagai santa yang berjasa. Mitos tentang Sinterklas yang datang saat malam Natal pun terus-menerus berkembang sejak saat itu, bahkan setelah Nikolas tutup usia. Beragam bumbu menambah sedap keberadaan kisah Sinterklas. Ceritanya pun lantas disesuaikan dengan budaya dari masing-masing negara.

Lalu, bagaimana sikap gereja menanggapi kehadiran Sinterklas atau Nikolas?


Paus Paulus VI, pemimpin umat Katolik sedunia, kala itu tak yakin dengan kisah Nikolas. Sebab, ceritanya sangat simpang-siur. Belum lagi ditambahi dengan bumbu-bumbu cerita dari berbagai pihak. Karena itu, pada 1970, secara resmi Vatikan menghapus nama Sinterklas dari daftar orang-orang suci atau santo-santa.

Lalu, pada 5 Desember 1972, sisa tulang-tulang Nikolas dipindahkan ke Amerika. Hal ini dilakukan agar masyarakat tak terus terbayang-bayang dengan keberadaan Sinterklas.

Nah, kalau kamu, masih percaya dengan keberadaan Sinterklas?

Cakrawala Kematian


Dunia Online - Salah satu hal tersulit yang bisa kita lakukan adalah melepas orang yang begitu kita cintai menuju kematian. Cerita berikut ini bisa membantu.

Pada masa-masa sebelum adanya pesawat terbang yang andal, kebanyakan orang bepergian dari benua ke benua dengan kapal penumpang besar lintas samudra. Saat kapal hendak berlayar, para penumpang akan berbaris di dek kapal, di sisi dermaga di mana keluarga dan sahabat mereka berdiri.

Tak kala sirine uap berbunyi menandakan keberangkatan, mereka yang di atas kapal dan mereka yang di dermaga melambai, memberikan ciuman dari jauh, dan meneriakkan salam perpisahan sembari kapal perlahan menjauh. Tak lama, kapal itu terlalu jauh bagi mereka yang di dermaga untuk membedakan siapa-siapa di jajaran para penumpang yang masih berdiri di dek, namun mereka masih melambai dan memandang.

Beberapa menit kemudian, perahu itu bahkan terlalu jauh untuk bisa melihat kerumunan penumpangnya, namun masih saja orang-orang yang mengasihi akan tetap di dermaga menatap kapal yang kian melenyap, dimana orang yang mereka cintai berada.

Kemudian kapal akan mencapai suatu garis pembatas cakrawala, lalu lenyap sama sekali. Namun, walaupun keluarga dan kawan di daratan tidak bisa melihat orang yang mereka kasihi lagi, apalagi bicara atau menyentuh mereka, mereka tahu bahwa orang yang mereka kasihi tidak lenyap sepenuhnya. Mereka hanya pergi melintasi suatu garis, cakrawala, yang memisahkan kita dari yang nan jauh disana. Mereka tahu bahwa mereka akan berjumpa lagi.

Hal yang sama bisa dikatakan tak kala orang yang kita cintai meninggal. Jika kita beruntung, kita berada di sisi pembaringan mereka, memeluk mereka, dan mengucap salam perpisahan terakhir. Kemudian mereka berlayar menuju samudra, yaitu kematian. Mereka makin memudar dari kita.

Pada akhirnya,mereka mencapai cakrawala, garis pembatas yang memisahkan kehidupan ini dengan yang di luar sana. Setelah mereka melewati garis itu, kita tidak bisa melihat mereka lagi, apalagi bicara atau menyentuh mereka, namun kita tahu bahwa mereka belum lenyap sama sekali.

Mereka hanya melewati suatu garis, kematian, yang memisahkan kita dari yang di luar sana. Kita akan bertemu satu sama lain lagi.

Pohon dan Anak


Dunia Online - Ada pohon besar di dalam hutan dengan batang yang tebal, banyak dahan besar, dan berdaun rimbun. Seorang anak yang kesepian datang ke pohon itu untuk bermain.

Anak itu membayangkan ia mendengar pohon itu berkata ramah kepadanya, “Ayo panjatlah aku. Bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau, juga daunku yang berlimpah.” Maka anak itu memanjat pohon itu, mematahkan beberapa ranting, mengambil dedaunan, dan membuat rumah rahasia yang tinggi di pohon itu. Meski itu menyakiti pohon, namun pohon itu bahagia berkorban sedikit untuk melihat anak itu mendapatkan begitu banyak kesenangan. Selama hari-hari yang panjang, anak itu akan bermain di dalam rumah pohon. Pohon itu puas.

Ketika anak itu tumbuh lebih dewasa, ia berhenti bermain di pohon itu. Pohon itu menjadi sedih, rantingnya merunduk dan deadunannya kehilangan kilaunya.

Selang beberapa tahun, anak yang kini remaja itu kembali. Pohon itu kegirangan melihatnya lagi. Pemuda itu merasa ia mendengar pohon itu berkata, “Ayo panjatlah aku lagi. Rumah pohon lamamu masih di sini. Aku merindukanmu.”

“Kini aku terlalu tua untuk bermain rumah pohon,’ pikir remaja itu. “Aku ingin kuliah tapi aku terlalu miskin.”

“Tidak masalah,’ pohon itu tampaknya berkata, “Kembalilah seminggu lagi. Aku akan mengeluarkan buah. Aku akan hasilkan ekstra. Silakan panen semua buahku dan juallah untuk membayar biaya kuliahmu.”

Maka anak itu kembali tujuh hari kemudian. Pohon itu dipenuhi buah ranum. Anak itu mengambil semuanya sampai buah yang terkahir, menjualnya, dan cukup untuk biaya kuliah satu tahun. Pohon itu sangat bahagia.

Anak itu kembali selama tiga tahun berikutnya, mengambil setiap buahnya dan menjualnya untuk memenuhi biayanya. Pohon itu gembira. Pohon itu bahkan kelihatannya berusaha lebih keras tiap tahunnya untuk menghasilkan lebih banyak buah untuk sahabatnya, meskipun ini membuat pohon itu kelelahan dan makin sakit.

Ketika anak itu lulus, ia berhenti datang. Pohon itu sedih lagi. Beberapa tahun kemudian, anak itu, kini menjadi pemuda, kembali. Ia memiliki kesan yang sangat jelas bahwa pohon tua itu menangis kegirangan melihatnya lagi. “Tunggu beberapa hari lagi. Walau aku kini agak lemah, aku masih bisa menghasilkan banyak buah agar kamu jual untuk biaya kuliahmu.”

“Aku tidak kuliah lagi,” kata pemuda itu, “aku sudah punya pekerjaan. Aku sudah jatuh cinta dan ingin menikah, namun kami membutuhkan rumah untuk ditinggali.”

“Tidak masalsah,” pohon itu agaknya berkata, “kembalilah besok dengan gergaji. Ambil dahan tebalku. Itu bisa untuk membuat papan lantai dan tiang yang kuat. Bahkan ada cukup kayu untuk membuat dindingnya. Gunakan dahan kecil dan daun besar untuk atapnya. Ada banyak.”

Demikianlah, hari berikutnya, pemuda itu mengambil seluruh dahan dan daun untuk membuat rumahnya, menyisakan hanya batangnya. Meski itu melukai pohon itu dengan parah, pohon itu bahagia membuat pengorbanan besar untuk seseorang yang dicintainya.

Selama bertahun-tahun, anak itu tidak pernah kembali. Pohon itu bergantung pada kenangan bahagianya untuk mempertahankan hidupnya.

Kala anak itu datang lagi, kini menjadi pria setengah baya, pohon itu nyaris melompat keluar dari tanah dengan sukacita. “Selamat datang! Sungguh bahagia melihatmu lagi!” Bahkan kali ini burung-burung pun bisa mendengar pohon itu. “Apa yang bisa kulakukan untukmu? Mohon izinkan aku membantu.”

“Aku kini punya anak,” jawab pria itu, “dan aku ingin memulai usaha perabotanku sendiri untuk mendapat cukup uang untuk memberi mereka kehidupan yang baik.”

“Bagus sekali,” kata pohon tua itu, “meski kamu mungkin berpikir aku cuma tunggul tua, ada banyak kayu indah dalam batangku untuk membuat banyak perabot mahal. Ambillah. Aku akan bahagia jika kamu ambil semua.”

Maka pria itu datang esoknya, menebang batang pohon itu dan mendapat cukup banyak kayu kelas satu untuk memulai usaha perabotannya.

Tak lama setelahnya, pohon itu mati.

Bertahun-tahun kemudian, anak itu, kini telah menjadi orangtua, mengunjungi tempat dimana pohon yang sehat itu pernah berdiri, tempat ia membangun rumah pohon semasa ia kecil, yang selalu begitu dermawan kepadanya. Yang tersisa hanyalah akar yang melapuk.

Orang tua itu membaringkan kepalanya di atas akar-akar itu sejenak. Akar itu jauh lebih nyaman daripada bantal bulu. Ia ingat dengan berurai air mata bagaimana pohon itu telah menolongnya, tanpa bertanya, tiap kali ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana pohon itu mengorbankan segalanya untuknya, dan bahagia melakukannya setiap saat. Ia pun tertidur.

Ketika ia bangun dari mimpi itu, ia menyadari bahwa pohon itu adalah orangtuanya.

Karena Ibu Akan Selalu Bersama Kita


Dunia Online - Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”

Ibu muda itu tampak berbahagia, tapi dia tidak begitu percaya kalau segala sesuatunya bisa lebih baik dari masa-masa yang sudah dilewatinya. Ibu itu pun bermain-main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga bagi mereka di sepanjang perjalanan, memandikan mereka di sungai yang jernih. Mereka bermandikan sinar matahari yang hangat. Ibu muda itu bersuara kencang, “Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

Ketika malam tiba, terjadi badai yang membuat jalanan menjadi gelap. Anak-anak bergetar ketakutan dan kedinginan. Sang ibu mendekap anak-anak dan menyelimuti mereka dengan mantelnya. Anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak takut karena engkau ada di dekat kami. Karena ada ibu, kami tidak akan terluka.”

Esok paginya, ibu dan anak-anaknya mendaki sebuah bukit. Lama-kelamaan mereka menjadi lelah. Namun, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya, “Sabarlah sedikit lagi, kita pasti akan sampai.” Kata-kata itu cukup membuat anak-anak bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian mereka. Dan ketika akhirnya tiba di atas bukit, anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak akan bisa sampai di sini tanpamu.”

Dan ketika berbaring di malam hari, sang ibu memandangi bintang-bintang dan mengucap syukur, “Hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, karena anak-anak saya belajar bersikap tabah dalam menghadapi kesusahan. Kemarin, saya memberi mereka keberanian. Hari ini, saya memberi mereka kekuatan.”

Dan keesokan harinya, datang awan tebal yang menggelapkan bumi, awan peperangan, kebencian dan kejahatan. Membuat anak-anak itu tersandung dan terjatuh, tapi sang ibu berusaha menguatkan mereka, “Lihatlah ke arah cahaya kemuliaan itu.” Anak-anak itu pun menuruti. Di atas awan terlihat cahaya yang bersinar sangat terang, dan cahaya itulah yang membimbing mereka melewati kegelapan itu. Malam itu berkatalah sang ibu, “Inilah hari yang terbaik. Karena saya sudah menunjukkan Tuhan pada anak-anak saya.”

Hari pun berlalu dengan cepat, lalu berganti dengan minggu, bulan, dan tahun. Sang ibu pun mulai menua dan tubuhnya menjadi membungkuk. Sementara, anak-anaknya bertumbuh besar dan kuat, serta berjalan dengan langkah berani. Ketika jalan yang mereka lalui terasa berat, anak-anak itu akan mengangkat ibu mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit. Di atas sana, mereka bisa melihat sebuah jalan yang bercahaya dan gerbang emas dengan pintu terbuka lebar. Sang ibu berkata, “Ini sudah akhir perjalanan. Dan sekarang saya tahu, akhir perjalanan ini memang lebih baik daripada awalnya karena anak-anak saya bisa berjalan sendiri, dan begitupun cucu-cucu saya.”

Dan anak-anaknya berkata, “Ibu akan selalu menyertai kami, sekalipun Ibu sudah pergi melewati gerbang itu.” Dan anak-anak itu melihat ibu mereka berjalan sendiri, lalu gerbang itu tertutup di belakangnya. Anak-anak itu berkata lagi, “Kami memang tidak melihatnya lagi, tapi Ibu tetap ada bersama kami. Seorang ibu seperti Ibu kami lebih dari sekadar memori. Dia selalu hidup di hati kami.”

Sama seperti dalam kisah di atas, Ibu kita pun selalu bersama kita. Dia bagai suara desiran dedaunan saat kita berjalan menyusuri jalan. Ibu kita hadir di tengah canda tawa kita. Dia mengkristal di setiap airmata kita. Dialah tempat kita berasal, rumah kesayangan kita; dan dialah peta yang mengarahkan langkah yang kita ambil. Dialah cinta kita, dan tidak ada satu pun hal yang bisa memisahkan kita dengan ibu kita. Tidak juga waktu, atau tempat….ataupun kematian. Karena Ibu akan selalu bersama kita.
Videos